Oleh Harmen Batubara
Waktu masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta dahulu,
saya kerap dijuluki "anak Medan". Label itu melekat hanya karena saya
berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Padahal, desa kelahiran saya sendiri
berjarak 550 kilometer di selatan Kota Medan—justru lebih dekat ke perbatasan
Sumatera Barat. Namun, terlepas dari urusan geografis itu, ada satu hal yang
selalu membuat saya kagum dan terinspirasi dari dinamika masyarakat kita:
kemampuan luar biasa dalam memutar roda ekonomi di kelas menengah ke bawah. Di
tengah keterbatasan penghasilan dan langkanya lapangan kerja formal, selalu
saja lahir ide-ide kreatif yang memberi ruang bagi setiap orang untuk bertahan,
bergerak, dan merayakan hidup dengan riang.
Satu kenangan sederhana dari masa kecil selalu
berhasil mengingatkan saya akan nikmatnya kehidupan di tengah keterbatasan. Ini
adalah kisah tentang para pengumpul batu kali di pinggiran Sungai Batang
Angkola. Di sana, suasananya mirip rest area masa
kini—ramai oleh warung-warung kecil berdampingan dengan tempat pengumpulan
batu.
Dunia Pengumpul Batu Kali
Saat masih duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat (SR),
saya sudah ikut terjun ke sungai. Cara kerjanya sederhana: kami memilah batu
kali berbobot 1 hingga 3 kilogram, lalu memikulnya ke pinggir jalan untuk ditumpuk.
Tentu saja, kemampuan anak kecil seperti saya berbeda jauh dengan orang dewasa
yang sanggup mengangkat batu ukuran apa saja. Namun, melihat deretan tumpukan
batu di sepanjang pinggiran jalan itu memunculkan kebahagiaan tersendiri. Ada
tumpukan berskala besar milik orang dewasa, tumpukan menengah, hingga tumpukan
kecil hasil peluh saya. Untuk mengumpulkan batu hingga mencapai volume satu
kubik, saya membutuhkan waktu satu minggu. Saya sudah lupa persis nominal
uangnya, tetapi ingatan tentang daya belinya masih melekat kuat: hasil satu
kubik batu itu bisa membiayai saya makan nasi Padang sekali sehari, dan di
akhir pekan, saya masih memegang uang sisa yang setara dengan harga 50 bungkus
nasi Padang. Sebuah kemewahan yang luar biasa bagi seorang anak sekolah.
Di lokasi pengumpulan batu itu pula, mata kekanakan
saya kerap terpukau oleh penampilan abang-abang sopir truk. Setelah lelah
menempuh perjalanan jauh, mereka akan mandi di jernihnya air sungai. Daya tarik
mereka ada pada ritual setelah mandinya. Di era itu, barang-barang kebutuhan
seperti sabun, sikat gigi, hingga minyak rambut kelas prima bisa dibeli secara
ketengan di warung pinggir sungai. Cukup dengan membeli minyak rambut ketengan,
mencoleknya secuil, lalu menyisirkannya ke rambut—seketika penampilan mereka
langsung berubah klimis bak bintang film yang siap menaklukkan jalanan kembali.
Esensi dari rekaman memori ini sesungguhnya
sederhana: meski bergerak dalam lingkup penghasilan yang kecil dan pas-pasan,
ekosistem tersebut mampu menumbuhkan pasar yang mandiri. Sebuah siklus ekonomi
yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan warganya, tetapi juga menciptakan
harmoni yang menyenangkan. Di sana, setiap peran—mulai dari anak kecil
pengumpul batu, pemilik warung ketengan, hingga sopir truk—memiliki maknanya
masing-masing. Dan dari sanalah kebahagiaan itu tumbuh.

No comments:
Post a Comment