July 12, 2026

Bahagia itu Tumbuh Bila Semua Peran Punya Makna

 


Oleh Harmen Batubara

Waktu masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta dahulu, saya kerap dijuluki "anak Medan". Label itu melekat hanya karena saya berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Padahal, desa kelahiran saya sendiri berjarak 550 kilometer di selatan Kota Medan—justru lebih dekat ke perbatasan Sumatera Barat. Namun, terlepas dari urusan geografis itu, ada satu hal yang selalu membuat saya kagum dan terinspirasi dari dinamika masyarakat kita: kemampuan luar biasa dalam memutar roda ekonomi di kelas menengah ke bawah. Di tengah keterbatasan penghasilan dan langkanya lapangan kerja formal, selalu saja lahir ide-ide kreatif yang memberi ruang bagi setiap orang untuk bertahan, bergerak, dan merayakan hidup dengan riang.

Satu kenangan sederhana dari masa kecil selalu berhasil mengingatkan saya akan nikmatnya kehidupan di tengah keterbatasan. Ini adalah kisah tentang para pengumpul batu kali di pinggiran Sungai Batang Angkola. Di sana, suasananya mirip rest area masa kini—ramai oleh warung-warung kecil berdampingan dengan tempat pengumpulan batu. 


Dunia Pengumpul Batu Kali

Saat masih duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat (SR), saya sudah ikut terjun ke sungai. Cara kerjanya sederhana: kami memilah batu kali berbobot 1 hingga 3 kilogram, lalu memikulnya ke pinggir jalan untuk ditumpuk. Tentu saja, kemampuan anak kecil seperti saya berbeda jauh dengan orang dewasa yang sanggup mengangkat batu ukuran apa saja. Namun, melihat deretan tumpukan batu di sepanjang pinggiran jalan itu memunculkan kebahagiaan tersendiri. Ada tumpukan berskala besar milik orang dewasa, tumpukan menengah, hingga tumpukan kecil hasil peluh saya. Untuk mengumpulkan batu hingga mencapai volume satu kubik, saya membutuhkan waktu satu minggu. Saya sudah lupa persis nominal uangnya, tetapi ingatan tentang daya belinya masih melekat kuat: hasil satu kubik batu itu bisa membiayai saya makan nasi Padang sekali sehari, dan di akhir pekan, saya masih memegang uang sisa yang setara dengan harga 50 bungkus nasi Padang. Sebuah kemewahan yang luar biasa bagi seorang anak sekolah.

Di lokasi pengumpulan batu itu pula, mata kekanakan saya kerap terpukau oleh penampilan abang-abang sopir truk. Setelah lelah menempuh perjalanan jauh, mereka akan mandi di jernihnya air sungai. Daya tarik mereka ada pada ritual setelah mandinya. Di era itu, barang-barang kebutuhan seperti sabun, sikat gigi, hingga minyak rambut kelas prima bisa dibeli secara ketengan di warung pinggir sungai. Cukup dengan membeli minyak rambut ketengan, mencoleknya secuil, lalu menyisirkannya ke rambut—seketika penampilan mereka langsung berubah klimis bak bintang film yang siap menaklukkan jalanan kembali.

Esensi dari rekaman memori ini sesungguhnya sederhana: meski bergerak dalam lingkup penghasilan yang kecil dan pas-pasan, ekosistem tersebut mampu menumbuhkan pasar yang mandiri. Sebuah siklus ekonomi yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan warganya, tetapi juga menciptakan harmoni yang menyenangkan. Di sana, setiap peran—mulai dari anak kecil pengumpul batu, pemilik warung ketengan, hingga sopir truk—memiliki maknanya masing-masing. Dan dari sanalah kebahagiaan itu tumbuh.




No comments:

Post a Comment